Munas Alim Ulama dan Konbes Nahdlatul Ulama

Selamat dan Sukses Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama pada 24-26 November 2017 di Islamic Center Lombok, NTB.

Selamat Hari Santri Nasional

Selamat Hari Santri Nasional 2017. Santri Mandiri, NKRI Hebat. Santri NUsantara.

Maulid Nabi Muhammad SAW 1439 H

Mari tumbuhkan sikap terpuji dengan meneladani akhlak Nabi.

Revolusi Digital NU

Semoga dengan diluncurkannya layanan digital ini dapat memenuhi kebutuhan umat di era serba digital.

Hari Santri Nasional

Keluarga Besar Pondok Pesantren Nurul Ulum mengucapkan Selamat Hari Santri Nasional. Santri Mandiri, NKRI Hebat.

Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Oktober 2017

Tipe Keluarga dalam Al-Qur'an


Kebahagiaan adalah target utama dalam membina rumah tangga. Bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. Apa gunanya menikah dan membangun keluarga, tetapi yang ada hanyalah terasa sesak dada, sengsara penuh derita, dan diri menjadi terpuruk. Justru fitrah manusia itu sesuai dengan fitrah pernikahan yaitu sebagai muara kebahagiaan dan ketenangan hidup. 

Siapapun yang membnagun rumah tangga, kaya ataupun miskin, pejabat maupun rakyat, gubernur atau abang bajigur, semuanya adalah berangkat terhadap satu tujuan yaitu mencapai kehidupan yang layak dan membahagiakan. Bagi kita keluarga muslim, selayaknya tujuan hidup difokuskan pada tujuan ukhrawi (akhirat) karena tiada manfaat jika di dunia kita senang tapi di akhirat malah sengsara. Baiknya, di dunia kita senang dan bahagia, di akhirat kita bersuka cita meraih surga.

Pada kenyataannya, ada empat tipe keluarga yang bisa kita pelajari dan teladani atau hindari.

Pertama, tipe keluarga Abu Lahab. Keluarga Abu Lahab adalah tipe keluarga yang paling buruk. Pasalnya, suami dan istri, keduanya berada di dalam kemaksiatan kepada Allah. Suami tukang judi, istri pengedar ekstasi. Suami tidak pernah shalat, istri tukang ngumpat. Suami pendusta, istri tukang zina. Na’udzubillah min dzalik. Keluarga tipe ini bukanlah keluarga yang patut kita teladani.

Kedua, tipe keluarga Fir’aun. Suaminya ahli maksiat, istrinya ahli taat. Tipe masih mendingan dibanding dengan tipe pertama karena istrinya dipastikan masuk serga tetapi suami masuk neraka. Namun, apakah sudi suami Anda menjadi nahli neraka sedangkan Anda senang-senang dalam kebahagiaan akhirat (surga)? Saya kira, tidak. Tidak ada istri yang menginginkan suaminya celaka. Jika ada, inilah istri yang buruk di mata agama dan sesama. Maka, ikhtiar meluruskan dan mengarahkan suami yang tidak taat kepada Allah menjadi suat hal yang sangat wajib bagi istri. Ketika sudah berikhtiar, hasilnya serahkan kepada Allah. Istri akan terlepas dari dosa tetang hal ini.

Ketiga, tipe keluarga Nabi Nuh a.s.. Suaminya ahli ibadah, istrinya ahli bid’ah. Suaminya muwahhid (ahli tauhid), istri musyrikah (ahli syirik). Suami masuk surga, istri ke neraka. Sudikah pula Anda, wahai para suami, melihat istri berada dalam kesengsaraan dan siksa Allah? Jawabnnya harus tidak. Jika tidak “tidak” berarti Anda adalah suami egois. Dan, suami seperti inilah yang nanti akan diminta pertanggungjawaban atas keteledorannya membiarkan istri dalam kemaksiatan dan kemusyrikan. Kecuali jika Anda sudah berusaha, kemudian istri Anda tidak pula berubah, maka Anda tidak didakwa oleh Allah kelak di akhirat layaknya Nabi Nuh a.s..

Keempat, tipe keluarga Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Muhammad saw.. Suami dan isri keduanya adalah ahli taat, ahli ibadah, ahli tauhid, ahli sedekah, ahli shalat. Mereka berdua senantiasa saling memerhatikan dan memberi arahan takut-takut terjerembab ke dalam lubang maksiat. Sekali mereka terjerumus ke lembah dosa dan maksiat, mereka segera beristigfar dan meninggalkan dosa yang dikerjakannya. Tobat dengan tobat yang sebenarnya (taubatan nashuha).

Sahabat muslim yang taat, mau memilih tipe yang mana kita? saya yakin, tidak ada pilihan jitu kecuali memilih tipe keluarga yang keempat. Menjadi keluarga selayak keluarga Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Muhammad saw.. Oleh karena itu, mari sama-sama berjuang membangun keluarga SAMARA (sakinah, mawaddah, rahmah) sepanang masa.


Kiat-kiatnya, (1) menjadi keluarga berilmu, (2) menjadi keluarga yang menyesuaikan amal dengan ilmu, (3) menjadi keluarga yang saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran, dan (4) menjadi keluarga yang senantiasa syukur dan sabar menyikapi kehidupan.

Kamis, 30 Maret 2017

Kisah Cinta Qays dan Layla


Laila Majnun adalah sebuah kisah dari rakyat arab, tentang kecantikan seorang gadis bernama Laila, yang menarik hati seorang pemuda, Qais keturunan Bani Amir.
Qais yang semula pandai, gagah dan berasal dari kabilah terhormat, menjadi majnun alias gila, karena kasihnya yang tak sampai. Qais, yang tersiksa karena takdir yang selalu memusuhinya, sedang hasrat tak mampu ditundukan hatinya, menjadikan dia lupa akan hakikat hidupnya sendiri. Walau kegilaan yang dialaminya mengilhami tutur bahasa sastra yang indah, dan ketulusan jiwa dalam derita cinta, tetap saja sebutan majnun tak dapat ditepisnya.
Kisah tentang Qais dan Laila yang hidup di suatu negeri wilayah tanah Arab. Qais yang berwajah tampan dan Laila yang terkenal akan kecantikannya, yang menjadi dambaan setiap laki-laki. Akhirnya cinta mereka kandas karena adat melarang mereka untuk mengekspresikan gelora cintanya. Maka, tumpah ruahlah segala rasa rindu dan cinta dalam bentuk syair dan puisi yang mengalir menentang takdir mereka.
Suatu ketika Qais memutuskan ikut berniaga ke negeri lain bersama ayahnya agar kelak ia memiliki bekal pengetahuan sendiri tentang perniagaan. Ketika pamit kepada Laila, Qais memberikan seuntai kalung mutiara sebagai tanda kesetiaannya. Qais minta Laila berjanji untuk melepaskan sebuah mutiara dari untaiannya apabila waktu sudah menunjukkan bulan baru. Ia pun berjanji akan kembali sebelum untaian mutiara habis.
Meskipun sangat sedih, Laila merelakan kekasihnya pergi mencari pengalaman.
Sepeninggal Qais, Laila hanya bermenung diri dan menciptakan syair sebagai pelambang rindu. Suatu hari, ayah Laila, Al-Mahdi, pulang ke rumah bersama seorang tamu bernama Sad bin Munif, yang diajak menginap. Tamu itu seorang saudagar kaya raya yang berasal dari Irak. Ketika berjumpa Laila, Sad bin Munif langsung jatuh cinta dan melamar Laila kepada ayahnya. Tanpa sepengetahuan Laila, Al-Mahdi menerima lamaran tersebut karena tergiur oleh mas kawin 1.000 dinar dan harta kekayaan Sad bin Munif. Laila tak berdaya melawan perintah ayahnya karena adat memang menyatakan bahwa laki-laki berkuasa atas perempuan. Sementara itu, Qais yang telah memasuki bulan ke-9 ikut berniaga ke negeri-negeri seperti Damsjik, Jerusalem, Hims, Halab, Anthakijah, Irak, Koefah, hingga Basrah tidak dapat lagi menahan rindunya terhadap Laila. Wajahnya tampak muram dan badannya semakin kurus.
Ayah Qais melihat kesedihan anaknya dan menanyakan ada apakah gerangan yang telah mengganggu pikirannya. Akhirnya Qais berterus terang tentang kisah cintanya dengan Laila. Demi mendengar penuturan anaknya, Al-Mulawwah memutuskan segera kembali ke kampung halamannya dan berjanji akan melamar Laila untuk Qais. Ketika sampai kampung halaman, Al-Mulawwah bergegas menemui ayah Laila dan menawarkan 100 unta sebagai pengganti uang 1.000 dinar yang telah diberikan Sad bin Munif. Akan tetapi, dengan sombongnya, ayah Laila menolak lamaran Al-Mulawwah. Tak berapa lama kemudian, pesta perkawinan Laila dan Sad bin Munif diselenggarakan secara besar-besaran. Maka, hancur luluhlah hati Qais. Tak ada satu obat pun yang bisa menyembuhkan sakitnya ini, meskipun orangtuanya telah mendatangkan banyak tabib ternama. Sejak itu Qais tidak mau berbicara kepada orang lain, ia sibuk dengan dirinya sendiri dan sering kali terlihat berbicara sendiri. Karena perilaku aneh inilah orang sekampungnya memanggil Qais dengan Majnun, yang berarti kurang sempurna pikirannya.
Akan halnya Laila, meskipun kini telah menjadi istri Sad bin Munif, ia tetap mencintai Qais. Menurut Laila, secara fisik ia boleh menjadi istri Sad bin Munif, tetapi jiwanya tetap untuk Qais. Dalam ungkapannya, di dunia Qais dan Laila bukanlah pasangan suami istri, tetapi di akhirat mereka menjadi pasangan abadi. Karena tak kuat menanggung penderitaan cinta ini, Laila sakit dan selalu memanggil nama Qais. Akhirnya Qais pun dipanggil untuk menemui Laila. Ketika mereka bertemu, Laila memberi pesan terakhir bahwa mereka akan bertemu nanti di akhirat sebagai sepasang kekasih. Demi melihat kekasihnya meninggal, putus asalah Qais. Tak ada lagi keinginannya untuk hidup. Sehari-hari kerjanya hanya duduk di pusara Laila hingga akhirnya Qais meninggal. Maka, jasad Qais pun dibaringkan di samping pusara Laila.

Kira-kira 10 tahun kemudian, beberapa musafir menziarahi kubur mereka berdua. Di atas kedua pusara itu telah tumbuh dua rumpun bambu yang pucuknya saling berpelukan. Maka, masyhurlah kisah ini sebagai kisah Laila-Majnun.

Selasa, 28 Maret 2017

"Mana yang lebih baik, Berjilbab tapi berakhlak buruk atau tidak berjilbab tapi berakhlak baik...???"


Sahabat Buletin Santri, sedikit akan kita bahasa tentang "Mana yang lebih baik, Berjilbab tapi berakhlak buruk atau tidak berjilbab tapi berakhlak baik...???"

Beberapa wanita berpendapat begini, 
”Lebih baik saya berjilbab hati dulu, daripada berjilbab tetapi hatinya tidak berjilbab.”
“Mendingan tidak usah berjilbab aja, daripada kaya si A berjilbab tapi masih sering berbuat maksiat.”
”Kalau belum siap berjilbab, mendingan ga usah pakai dulu!”
”Saya belum bisa memperbaiki perilaku saya, saya belum siap pakai jilbab jadi saya nanti aja pakai jilbabnya.”
”Saya sebenarnya pengen mamakai jilbab, tetapi masih belum siap.”
”Saya sebenarnya pengen mamakai jilbab, tetapi malu belum terbiasa.”

Mungkin kita sering mendengar perkataan-perkataan seperti di atas atau yang sejenisnya. Dimana pernyataan atau pandangan-pandangan seperti di atas menjadikan seorang akhwat tidak atau menunda untuk berjilbab.
Tidak dapat dipungkiri bahwa ada di antara para muslimah yang sudah memakai jilbab ada yang masih melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak mencerminkan moral atau akhlak islam. Hal inilah yang kemudian memunculkan banyak pandangan-pandangan di masyarakat yang berpendapat seperti di atas. Mereka bersikap sinis dan pesimis terhadap jilbab.
Salah satu pandangan yang banyak kita jumpai di masyarakat adalah adanya pandangan yang mengatakan bahwa ”Lebih baik kalau belum siap tidak usah pakai jilbab dulu, daripada berjilbab tetapi masih melakukan perbuatan-perbuatan maksiat atau berakhlak buruk”. Pandangan inilah yang juga sering mengecoh para muslimah sehingga menolak atau menunda melaksanakan kewajibannya dalam mengenakan jilbab. Kalau kita cermati pandangan semacam ini, kita bisa analisis sebagai berikut:

Ada dua pernyataan yang bisa kita tarik dari pandangan tersebut, yaitu:
Pertama, berjilbab tetapi berakhlak buruk
Para muslimah yang berjilbab tetapi masih banyak juga melanggar syariat-syariat islam yang lainnya.
Kedua, tidak berjilbab tetapi berakhlak baik
Para wanita yang tidak atau belum berjilbab tetapi tidak melanggar syariat-syariat islam yang lainnya, kecuali jilbab.

Pandangan yang seperti di atas menganggap bahwa pernyataan kedua lebih baik daripada pernyataan pertama. Apakah benar demikian? Atau Manakah diantara kedua hal tersebut yang lebih baik?

Jawabannya adalah tidak ada lebih baik dari dua hal tersebut. Tidak ada yang lebih dari dua alternatif pelanggaran, karena dari keduanya memang tidak ada yang baik. Ketika seorang muslimah telah baligh atau dewasa maka wajib baginya untuk berjilbab. Adapun masalah moral atau akhlak itu adalah perkara yang lain dimana ada hukum tersendiri yang mengaturnya. Mungkin yang harus kita imani terlebih dahulu adalah bahwasanya berjilbab adalah kewajiban yang mutlak bagi seorang muslimah yang sudah baligh.

Banyak dalil-dalil tentang kewajibab berjilbab;
”Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ’Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Al Ahzab (33): 59]
”Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.” [QS.An Nur(24) : 31]

Sabda Rasulullah shallallahu ’alahi wassalam yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari ’Aisyah, katanya:
”Hai Asmaa! Sesungguhnya perempuan itu apabila telah dewasa/sampai umur, maka tidak patut menampakkan sesuatu dari dirinya melainkan ini dan ini.” Rasulullah Shallahllahu ’alaihiwassalam berkata sambil menunjukkan muka dan kedua telapak tangan hingga pergelangan tangannya sendiri.

Lalu bagaimana dengan wanita yang belum berjilbab tetapi bukan karena menolak melainkan menunda-nunda dengan berbagai alasan seperti malu masih belum terbiasa, belum siap, atau nanti saja dan lain-lain?

Bagi saudari-saudariku yang masih menunda-nunda berjilbab hendaklah menyadari bahwasanya umur dan ajal bisa datang kapan saja. Kita tidak tahu kapan malaikat maut mencabut nyawa kita. Apa tahun depan? Bulan depan? Besok? Atau mungkin satu jam lagi. Ingatlah kematian saudariku yang datangnya tiba-tiba. Hendaknya kita segera bertaubat dan mulailah kenakan jilbab dengan benar. Allah tidak akan menerima taubat seseorang ketika tiba ajalnya, dan ajal itu tidak akan dapat diundurkan atau dimajukan.

Rasulullah Shallallahu ’alahi wassalam membenci orang-orang yang merasa panjang umur, dengan sabdanya,


”Sesungguhnya yang paling aku takuti atas umatku ialah hawa nafsu yang masih merasa panjang umurnya. Adapun hawa nafsu yang menyesatkan manusia dari kebenaran dan hawa nafsu yang masih merasa panjang umurnya (panjang angan-angan) semua itu akan lupa pada hari akhir.”

Minggu, 26 Maret 2017

Waspadai Hipertensi pada Wanita




Masih banyak orang yang menganggap bahwa hipertensi identik dengan pria. Padahal, pada usia 65 tahun ke atas, angka kejadian hipertensi pada wanita lebih tinggi daripada pria. Riset Kesehatan Dasar tahun (Riskesdas) 2013 mengungkap prevalensi hipertensi pada wanita mencapai 28.8 persen. Lebih tinggi dari pria yang bertengger di angka 22.8 persen. Angka perkiraan hidup kaum wanita yang lebih tinggi dari pria adalah salah satu faktor pendorongnya, selain faktor hormonal yang juga ikut berkontribusi.

Sahabat Buletin Santri, pakar hipertensi dr. Arieska Ann Soenarta, SpJP(K), FIHA, FAsCC pada temu media dalam rangka simposium ke-11 Indonesian Society of Hypertension mengungkapkan, “Dalam kurun waktu antara tahun 2000-2025 dunia diperkirakan akan terjadi peningkatan prevalensi sebanyak 9 persen pada pria dan 13 persen pada wanita.” Peningkatan prevalensi ini harus diwaspadai karena hipertensi merupakan faktor risiko terpenting yang menyebabkan terjadinya penyakit jantung-otak-pembuluh darah (kardio-cerebro-vaskular/ KCV). “Kematian di dunia,” tambahnya, “sebagian besar disebabkan oleh penyakit KCV, baik pada wanita maupun pada pria.”

Secara umum, hipertensi disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik antara lain adalah usia. Semakin tua seseorang, semakin berisiko terkena hipertensi. Pada umumnya, hipertensi berkembang di usia 35-55 tahun. Faktor genetik yang kedua ialah etnis. Menurut penelitian, etnis Amerika keturunan Afrika memiliki risiko tertinggi terkena hipertensi. Keturunan adalah faktor genetik yang terakhir. Beberapa peniliti meyakini bahwa 30-60 persen kasus hipertensi diturunkan secara genetik.

Berbeda dengan faktor genetik yang tidak dapat dimodifikasi, faktor lingkungan bisa dikendalikan oleh manusia. Yang termasuk faktor lingkungan di antaranya diet, obesitas, rokok, dan adanya penyakit lain. Diet yang dimaksud adalah terdapatnya asupan makanan dengan kadar garam tinggi. Seiring bertambahnya usia, kadar garam yang tinggi dapat meningkatkan tekanan darah. Obesitas atau kelebihan berat badan juga memicu terjadinya hipertensi. Sedangkan rokok memberi tambahan dengan peluang terjadinya jantung koroner. Ada pun penyakit yang potensial memicu terjadinya hipertensi adalah diabetes mellitus (DM) tipe 2. Tak tanggung-tanggung, peningkatan risiko akibat DM bisa mencapai 2 kali lipat.

Patut diketahui pula bahwa kehamilan, yang dialami oleh hampir seluruh wanita di dunia, juga dapat memicu hipertensi. “Hipertensi sebagai komplikasi pada kehamilan terjadi pada 7-9 persen kehamilan,” ujar dr. Arieska. “18 persen kematian ibu hamil,” lanjutnya, “disebabkan hipertensi pada kehamilan.” Oleh karena itu, penting bagi kaum wanita untuk mengontrol faktor-faktor lingkungan yang bisa dikendalikan agar terhindar dari hipertensi. Langkah konkretnya adalah mengurangi makanan dengan  kadar garam yang tinggi, mengendalikan berat badan, tidak merokok, dan rajin berolah raga. Bila perlu, meminum obat-obatan (herbal lebih baik) pencegah hipertensi juga bisa dilakukan.
 

Ciri-Ciri Istri yang Pandai Bersyukur




الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ (رواه مسلم)

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholihah.” (HR. Muslim)

Ada seorang ibu yang memiliki kehidupan mapan, anak-anak cerdas dan patuh, suami enggak neko-neko, tapi kenapa ya masih saja galau? Selalu saja ada kata-kata pedas yang keluar darinya setiap hari. Setelah puas melontarkan kata-kata makian, ibu itu berubah jadi pihak yang paling teraniaya. Terus maunya apa? Bingung. Korbannya siapa lagi jika bukan anak-anak dan suaminya. Sekilas, orang lain memandangnya bahagia. Impian semua wanita gitu. Enggak perlu repot-repot kerja keras, anak-anak cerdas dan membanggakan, pun suami yang enggak macam-macam. Tapi kenapa Ibu tadi masih merasa kurang? Selalu saja ada yang salah di matanya. Jadi meskipun memiliki segalanya, ibu tersebut merasa tidak bahagia. Miris.

Sementara itu di tempat yang berlainan, ada seorang istri yang masih harus berjuang banyak hal, ikut mencari nafkah agar kebutuhan tercukupi, serta masih harus mengurus anak-anak sendiri tanpa ART, yang ternyata merasa sangat bahagia dan menikmati kesibukannya. Sekilas orang lain memandangnya kasihan, tapi nyatanya ibu itu bahagia.

Bahagia memang ada di hati, bukan ada di tampilan luar dan kata orang.

Sahabat Buletin Santri, salah satu kunci kebahagiaan rumah tangga adalah adanya rasa syukur: perbanyak syukur, minimalisir tuntutan & teruslah berusaha. Sabar, syukur, ikhlas.

Jika seorang istri pandai bersyukur, suami tenang, anak-anak aman, dan rumah terasa lapang. Pun sebaliknya, jika rasa syukur tidak ada, rumah yang megah pun akan serasa sempit karena hati dan pikiran yang tidak pernah terpuaskan.

Lalu, apa saja indikator seorang istri bersyukur? Beberapa hal sederhana di bawah ini bisa menjadi tandanya.

1.      Tidak mengungkit kebaikan dirinya

"Kalau bukan karena aku ..."

"Aku udah ngurusin anak-anak ..."

Dan kata-kata serupa yang seolah minta bayaran. Anak pun akan merasa terluka jika ibunya sering berkata seperti itu. Allah tidak akan menyia-nyiakan siapa pun yang berbuat baik. Allah tahu siapa yang modus, mengharap pujian, dan yang tulus. Istri yang pandai bersyukur akan selalu percaya dengan janji Allah. Percaya bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakannya.

2.      Tidak merasa paling berkorban

"Dulu kan sebenarnya mama diterima di anu, nikah sama papamu sih," dikit, tapi nancep.

Jadi menyesal menikah dan punya anak?

Istri yang pandai bersyukur tidak akan merasa dirinya paling banyak berkorban karena dia melakukan semuanya dengan senang hati, bukan sekadar kewajiban semata.

3.      Tidak mengungkit-ungkit perjuangannya terus-terusan di depan orang-orang hanya agar mendapat decak kagum

"Jadi dulu itu ya awal aku nikah deuh rumah cuma sepetak, makan sepiring berdua, dll. Kamu sih enak ya ...," nah.

Buat apa cerita terus-menerus seperti itu kemudian membandingkan dan menyalahkan pasangan suami istri yang enggak gitu kalau tujuannya bukan untuk "ini lhoh guee, nihh,"

Padahal setiap pasutri pasti memiliki perjuangannya masing-masing. Ada yang enggak perlu repot-repot berjuang finansial, tapi berjuang masalah anak. Ada yang enggak berjuang masalah anak karena langsung diberi, tapi berjuang di hal yang lain. Nah. Emang situ aja yang berjuang. Enggak, kan.

Istri yang pandai bersyukur tidak akan lebay. Dia paham bahwa setiap pasutri pasti berjuang, pun dirinya dan suami. Selama perjuangan itu dilakukan dengan orang yang dicintai (pasangan hidup), ya seruu ajaa, nikmati aja, enggak perlu ngeluh atau membandingkan apalagi merasa paling kuat atau hebat.

4.      Menjaga martabat suami di depan orang lain

Suami adalah pakaian istri dan istri adalah pakaian suami. Keduanya harus saling menjaga aib masing-masing, bukan sebaliknya.

"Dia dulu kan flamboyan. Untung nikah sama aku," apa perlu seperti itu?

Istri yang pandai bersyukur akan menerima semua masa lalu suami dan tidak akan menggunakan masa lalu suami yang mungkin kelam sebagai bahan olokan di depan publik.

5.      Menghargai usaha suami

Orang bijak bilang tidak ada yang namanya kegagalan, yang ada adalah belajar.

Ada kalanya usaha suami belum berhasil. Di saat itulah peran istri sangat sangat diperlukan. Kalimat seperti, "Gagal lagi gagal lagi. Gagal mulu sih, Bang!" adalah kalimat yang tidak sepantasnya keluar dari mulut sang istri meskipun maksudnya untuk memotivasi.

Tidak harus dengan menusuk dan menyakiti kan memotivasi pasangan itu?

Istri yang pandai bersyukur akan paham bahwa yang namanya usaha itu enggak selamanya lancar. Saat usahanya melambung, bersyukur. Saat usaha suaminy menurun, bersabar dan mengevaluasi.

6.      Jauh dari mindset istri aja yang menderita

Menikah adalah kesepakatan bersama. Toh wanita sangat berhak menolak laki-laki yang mencintainya jika dia tidak cinta. Jadi kalau memang menikah adalah kesepakatan berdua, kenapa salah satunya selalu merasa jadi pihak yang terzolimi. Lha dulu kenapa mau? Kenapa bahagia sekali berada di posisi sebagai korban. Kalau toh tidak ada kecocokan bisa pisah baik-baik daripada bersama tapi selalu merasa jadi pihak yang teraniaya.

Dan istri yang pandai bersyukur tidak akan bahagia memposisikan dirinya sebagai pihak yang paling menderita. Dia jauhi mindset merusak seperti itu.

إِنِّي رَأَيْتُ الجَنَّةَ، أَوْ أُرِيتُ الجَنَّةَ، فَتَنَاوَلْتُ مِنْهَا عُنْقُودًا، وَلَوْ أَخَذْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتِ الدُّنْيَا، وَرَأَيْتُ النَّارَ، فَلَمْ أَرَ كَاليَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ، وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ» قَالُوا: لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «بِكُفْرِهِنَّ» قِيلَ: يَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟ قَالَ: " يَكْفُرْنَ العَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ (رواه البخارى و مسلم)

"Aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “Tidak, melainkan mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan suami. Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu yang tidak berkenan di hatinya niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907)

Semoga kita bisa menjadi istri yang penuh syukur. Istri sholehah penyejuk keluarga. Aamiin.
 

Rasulullah Menjaga Perasaan Istri




Sahabat Buletin Santri, seketika air mata berlinang ketika membaca kisah indah ini. Rasulullah SAW bersama Aisyah RA.

Sebagai seorang istri yang sholehah, Aisyah RA selalu menyediakan minum untuk Rasulullah SAW. Biasanya Baginda Nabi hanya minum setengah air dari gelas, karena Aisyah RA sangat suka dan senang minum air sisa dari Rasulullah SAW.

Namun pernah suatu ketika Rasulullah SAW baru pulang ke rumah dan langsung meminum habis air yang disediakan Aisyah RA. Seketika rasa bingung, heran, dan sedih menyelimuti diri Aisyah RA, “kenapa Rasulullah SAW tidak menyisakan minum untukku?”

Lalu Aisyah RA melihat gelas itu belum dicuci dan masih ada setetes air di dalamnya, maka setetes air tersebut diminum oleh Aisyah RA. Tahu apa yang terjadi? Tiba-tiba muka Aisyah RA memerah, karena rasa air itu asin. Aisyah salah memasukkan gula, namun malah garam yang masuk dalam air tersebut.

Aisyah RA pergi menuju Baginda Nabi SAW untuk minta maaf, namun reaksi Rasulullah SAW sangat luar biasa, beliau tersenyum bahagia dan mengatakan bahwa air minum itu rasanya enak sekali. Rasulullah SAW menghargai dan mengapresiasi setiap hasil usaha pelayanan dari Istrinya tercinta, dan tidak ingin menyakiti perasaan istrinya dengan mengatakan “Bahwa minuman ini tidak enak”, sekali TIDAK! Namun beliau menikmati air tersebut.
 

Sabtu, 25 Maret 2017

Tipe Wanita dalam Al-Qur'an


Sahabat Buletin Santri, Allah SWT menciptakan kita berjenis kelamin laki-laki dan perempuan dengan keadaan yang bermacam-macam. Ada banyak kisah dari umat terdahulu yang telah diceritakan oleh Allah dalam firman-Nya. Dari berbagai kisah tersebut, beberapa diantaranya menceritakan tentang wanita-wanita dengan tipe yang berbeda-beda Setidaknya ada lima tipe wanita yang disebutkan Allah SWT dalam Al-Quran.

Pertama, tipe pejuang.

Wanita tipe pejuang memiliki kepribadian kuat. Ia berani menanggung risiko apa pun saat keimanannya diusik dan kehormatannya dilecehkan. Tipe ini diwakili oleh Siti Asiyah binti Mazahim, istri Fir'aun.

Walau berada dalam cengkraman Fir'aun, Asiyah mampu menjaga akidah dan harga dirinya sebagai seorang muslimah. Asiyah lebih memilih istana di surga daripada istana di dunia yang dijanjikan Fir'aun. Allah SWT mengabadikan doanya:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (11)

"Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata : Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang zalim”. (QS At Tahriim [66]: 11).

Kedua, tipe wanita shalihah yang menjaga kesucian dirinya.

Tipe ini diwakili Maryam binti Imran. Hari-harinya ia isi dengan ketaatan kepada Allah. Ia pun sangat konsisten menjaga kesucian dirinya.

قَالَتْ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا (20)

“Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!”. (QS Maryam [19]: 20).

Karena keutamaan inilah, Allah SWT mengabadikan namanya sebagai nama salah satu surat dalam Al-Quran. Maryam pun diamanahi untuk mengasuh dan membesarkan kekasih Allah, Isa putra Maryam (QS Maryam [19]: 16-34). Allah SWT memuliakan Maryam bukan karena kecantikannya, namun karena keshalihan dan kesuciannya.

Ketiga, tipe penghasut, tukang fitnah dan biang gosip.

Tipe ini diwakili Hindun, istrinya Abu Lahab. Al-Quran menjulukinya sebagai "Pembawa Kayu Bakar" alias penyebar fitnah. Dalam istilah sekarang wanita penyiram bensin.

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ (1) مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ (2) سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ (3) وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ (4) فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ (5)

“Binasalah keduatangan Abu Lahab dan sesungguhnya ia akan binasa. Demikian pula istrinya, pembawa kayu bakar yang di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal”. (QS Al Lahab [111]: 1-5).

 Bersama suaminya, Hindun bahu membahu menentang dakwah Rasulullah SAW, menyebar fitnah dan melakukan kezaliman. Isu yang awalnya biasa, menjadi luar biasa ketika diucapkan Hindun.

Keempat, tipe wanita penggoda.

Tipe ini diperankan Zulaikha saat menggoda Nabi Yusuf. Petualangan Zulaikha diungkapkan dalam Al-Quran, sebagaimana berikut :

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ (23)

“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata, “Marilah ke sini”. Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung”. (QS Yusuf [12]: 23).

Kelima, tipe wanita pengkhianat dan ingkar terhadap suaminya.

Allah SWT memuji wanita yang taat kepada suaminya yang zalim, seperti dilakukan perempuan Fir'aun (Siti Asiyah binti Mazahim). Namun, pada saat bersamaan Allah pun mengecam perempuan yang bekhianat kepada suaminya (yang saleh). Istrinya Nabi Nuh dan Nabi Luth mewakili tipe ini. Saat suaminya memperjuangkan kebenaran, mereka malah menjadi pengkhianat dakwah.

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ (10)

“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shaleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya), Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).” (QS At Tahriim [66]: 10).

Wanita-wanita yang dikisahkan Al-Quran ini hidup ribuan tahun lalu. Namun karakteristik dan sifatnya tetap abadi sampai sekarang. Ada tipe pejuang yang kokoh keimanannya. Ada wanita salehah yang tangguh dalam ibadah dan konsisten menjaga kesucian diri. Ada pula tipe penghasut, penggoda dan pengkhianat. Terserah kita mau pilih yang mana. Bila memilih tipe pertama dan kedua, maka kemuliaan dan kebahagiaan yang akan kita dapatkan. Sedangkan bila memilih tiga tipe terakhir, kehinaan di dunia dan kesengsaraan akhiratlah akan kita rasakan.

وَلَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ آيَاتٍ مُبَيِّنَاتٍ وَمَثَلًا مِنَ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ (34)

“Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada Kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum Kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS An Nuur [24]: 34).

Termasuk dari tipe manakah kita wahai Sahabat Buletin Santri? Wallaahu a'lam.
 

Tips Berhijab yang Tepat dan Nyaman




Seperti yang telah kita ketahui, sebagai wanita muslimah, berhijab merupakan sebuah kewajiban yang harus dilakukan karena menutup aurat dapat melindungi seorang wanita dari perbuatan-perbuatan yang tidak diinginkan. Namun, banyak yang berpikir jika hijab akan membatasi penampilan seseorang menjadi kurang cantik dan menarik. Anggapan tersebut tentu saja salah kaprah karena jika Anda tepat dalam berhijab maka Anda akan mendapatkan penampilan yang cantik serta terlihat anggun sempurna. Maka dari itu, alangkah baiknya jika anda memperhatikan beberapa tips berhijab sesuai bentuk wajah ini, bagi pemula yang sangat mudah untuk dilakukan. Tidak hanya mudah, Anda pun akan memperoleh penampilan yang anggun serta enak untuk dipandang.

Berikut adalah beberapa tips bagi kaum hawa dalam berhijab

1.      Memilih busana yang tepat

Tips berhijab pertama yang bisa Anda lakukan yaitu dengan memilih busana yang tepat agar Anda tampil lebih cantik dan percaya diri. Pilihlah pakaian yang longgar saat berhijab. Hal ini dilakukan agar lekuk tubuh Anda tidak terlihat jelas oleh orang lain. Selain itu, bahan yang digunakan juga harus diperhatikan dengan seksama. Hindari pemilihan bahan yang menerawang karena percuma jika Anda memakai pakaian longgar dan rapat namun terlihat jelas bagian dalamnya. Maka dari itu pilihlah bahan yang tidak menerawang namun nyaman untuk Anda gunakan.

2.      Sesuaikan dengan bentuk wajah

Setiap orang tentu memiliki bentuk wajah yang berbeda beda, ada yang oval, bulat, kotak dan lain-lain. Maka dari itu, Anda harus memperhatikan bentuk wajah Anda sendiri. Cermati pilihan hijab yang sesuai dan hindari untuk meniru gaya hijab orang lain yang memiliki bentuk wajah berbeda dengan wajah Anda. Jika Anda memiliki wajah oval, semua bentuk hijab sangat cocok untuk Anda pilih. Wajah panjang lebih cocok menggunakan ciput sebagai inner agar wajah terlihat lebih padat. Bagi Anda yang berwajah bulat kenakan hijab bentuk bulat agar terlihat lebih oval. Sebenarnya tips ini juga cocok sebagai tips berhijab untuk pipi tembem hehehehe…chubby gitu.

3.      Sesuaikan dengan warna kulit

Tips berhijab yang selanjutnya yaitu dengan memperhatikan warna kulit Anda. Jika Anda ingin tampil lebih cantik dengan hijab yang Anda kenakan, maka Anda bisa mempertimbangkan warna kulit yang Anda miliki. Bagi Anda yang memiliki kulit putih, Anda tidak perlu khawatir karena semua warna hijab cocok untuk warna kulit Anda. Untuk warna kuning langsat, sebaiknya Anda gunakan hijab berwarna keemasan seperti karamel, orange, serta coklat. Untuk Anda yang memiliki warna kulit sawo matang, Anda bisa menggunakan hijab berwarna gelap seperti ungu, maroon, atau hitam. Sedangkan bagi Anda yang kurang pede dengan warna kulit gelap, alangkah baiknya jika Anda memilih warna netral atau lembut agar terlihat lebih cantik.

4.      Pilih bahan yang tepat

Sedangkan tips berhijab yang terakhir yaitu memilih bahan yang tepat untuk Anda kenakan sebagai hijab. Hal ini sangat penting karena akan mempengaruhi kenyamanan Anda saat mengenakan hijab. Gunakan bahan yang menyerap keringat agar Anda tidak merasa panas atau sumuk. Jika Anda memilih bahan yang kasar dan tidak menyerap keringat, maka Anda akan merasa kurang nyaman dan ini akan mempengaruhi kenyamanan Anda.

Itulah beberapa tips dalam berhijab yang bisa Anda lakukan agar Anda bisa tampil lebih cantik dan anggun.
 

Cantik ala Muslimah




Dalam islam kita diwajibkan selalu membiasakan hidup bersih. Terutama sebagai perempuan kita selalu ingin tampil bersih, cantik, dan rapi. Seperti sabda Rasullullah SAW. Kebersihan adalah bagian dari iman. Untuk itu sebagai wanita, tampil cantik tidak perlu harus mengeluarkan biaya hingga ratusan ribu untuk beli kosmetik bahkan pergi ke salon hanya untuk mempercantik diri. Disini kami akan memberikan tips tampil cantik secara alami dan natural.

1.      Berwudhu

Agar wajah selalu segar, beseri-seri dan cantik, cucilah minimal 5 kali sehari dengan air wudhu, biarkan menetes dan mengering sendiri, ambillah sajadah, shalat, berdzikir dan berdoa.

2.      Olahraga

Untuk menghilangkan stress atau kerutan di wajah, perbanyaklah olah raga. Tetapi jika tidak sempat untuk pergi ke tempat fitness, cukup dengan memperbanyak shalat. Dengan sholat berarti kita menggerakan seluruh bagian tubuh. Agar hati bisa lebih tenang, curhatlah kepada Allah, dan keluarkan keluh kesah yang selama ini kita rasakan. Melalui berdoa dan berdzikir.

3.      3S (Senyum, Salam, Sapa)

Supaya kita awet muda, tidak perlu membeli pelembab atau make up, tetapi kita selalu membiasakan 3S yaitu senyum, salam, dan sapa. Senyum itu tidak hanya di bibir tapi juga di hati. Katakanlah pada diri sendiri, tampil cantik tidak harus operasi plastik. Dan jangan lupa untuk membisikan pada diri sendiri, berdo’a sebelum kita berdandan (berkaca)

اللّهُمَّ كَمَا حَسَّنْتَ خَلْقِي فَحَسِّنْ خُلُقِي

“Yaa Alah sebagaimana Engkau telah memperindah kejadianku, maka perindah pula akhlakku.” (HR. Ahmad)

4.      Jaga mulut

Untuk mendapatkan bibir yang cantik, bisikkan kalimat-kalimat Allah, tidak berbohong, memfitnah, atau menyakiti orang lain, tidak dipakai untuk menyombongkan diri atau takabbur. Sering-seringlah bibir kita dipakai untuk berdzikir dan berdo’a.

5.      Diet teratur dengan puasa

Agar kita mendapatkan tubuh yang langsing, singset, dan mulus, lakukan diet yang teratur yaitu dengan puasa dua kali dalam seminggu (Senin dan Kamis). Jika Anda kuat lebih bagus lagi melakukan berpuasa seperti Nabi Daud AS yaitu sehari berpuasa, sehari tidak berpuasa. Dan makanlah makanan yang halal, perbanyak sayuran, buah-buahan dan air putih.

6.      Pakai jilbab dan busana muslimah

Agar kita dapat dipandang lebih anggun, maka memakailah jilbab dan bepakaianlah busana muslimah.

Itulah beberapa tips alami untuk menambah kecantikan ala muslimah. Semoga bermanfaat.
 

Tim Redaksi Buletin Santri Nurul Ulum. Diberdayakan oleh Blogger.