Munas Alim Ulama dan Konbes Nahdlatul Ulama

Selamat dan Sukses Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama pada 24-26 November 2017 di Islamic Center Lombok, NTB.

Selamat Hari Santri Nasional

Selamat Hari Santri Nasional 2017. Santri Mandiri, NKRI Hebat. Santri NUsantara.

Maulid Nabi Muhammad SAW 1439 H

Mari tumbuhkan sikap terpuji dengan meneladani akhlak Nabi.

Revolusi Digital NU

Semoga dengan diluncurkannya layanan digital ini dapat memenuhi kebutuhan umat di era serba digital.

Hari Santri Nasional

Keluarga Besar Pondok Pesantren Nurul Ulum mengucapkan Selamat Hari Santri Nasional. Santri Mandiri, NKRI Hebat.

Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Oktober 2017

Jahiliyah dan Seni Sastra


Berbicara mengenai zaman jahiliyah, dibenak orang akan muncul bayangan yang buruk dan kelam. Kehidupan yang penuh kedzaliman dan ke tidak-adil-an. Peperangan terjadi diantara kelompok dan suku. Penguburan bayi perempuan hidup-hidup karena dianggap sebagai aib keluarga. Diskriminasi terhadap perempuan yang dianggap begitu murah dan tak berharga. Tidak jarang seorang wanita dinikahi laki-laki lalu diceraikan setelah mendapat keuntungan dan kepuasan darinya. Begitu rendahnya martabat seorang wanita. Ini merupakan sebagian bukti kemerosotan moral yang terjadi pada masyarakat Arab jahiliyah.
Namun, segala sesuatu pasti ada kebaikannya. Ungkapan ini juga berlaku bagi kehidupan masyarakat Arab Pra-Islam. Bila ditelisik lebih mendalam ada sisi positif yang dapat diambil dari kehidupan mereka. Salah satu hal yang patut ditiru dari kehidupan masyarakat Arab jahiliyah adalah penghormatan mereka terhadap suatu karya dan ilmu pengetahuan, terutama pada orang-orang yang berilmu.
            Selain itu, masyarakat Arab juga dikenal sangat mahir dalam urusan seni, terlebih lagi syair. Sehingga bukan suatu yang asing lagi bagi mereka dalam urusan bersyair. Namun, tidak semua menguasai syair. Hanya segilintir orang yang mampu membuat syair. Bahkan tidak menutup kemungkinan juga hanya suatu golongan kecil.
            Menjadi seorang penyair merupakan sebuah kebanggan tersendiri bagi setiap kelompok masyarakat Arab. Maka, bukan sesuatu yang spesial lagi ketika seorang penyair menjadi tokoh tetua dan orang yang berpangkat dalam kelompoknya. Hal ini merupakan wujud penghormatan masyarakat arab terhadap seni dan pada orang yang berpengatahuan. Bahkan ada satu kebiasaan yaitu ketika ada seorang yang melantunkan syair dari kelompoknya maka akan diadakan pesta dan jamuan bersama.
            Ini merupakan sekelumit bahwa terdapat sisi positif yang dapat diambil dari kehidupan masyarakat Arab pra-Islam. Sehingga pemikiran yang beranggapan zaman jahiliyah yang kelam dan nista tidak selamanya tertempel pada benak orang. Karenanya ada ungkapan yang berbunyi “segala sesuatu pasti ada kebaikannya”. Dan hal ini merupakan salah satu bukti bahwa tidak selamanya yang buruk itu akan tetap buruk. Pasti di dalamnya terdapat nilai positif yang belum banyak orang ketahui. Sehingga tidak mudah dan gampang pengklaiman terhadap seseorang atau suatu kelompok.
Ternyata ke–jahiliahan masyarakat Arab bukan total mereka dalam keadaan yang buruk. Di sisi lain mereka memiliki tradisi dan nilai yang lebih dalam bidang sastra dan interpretasi pada seseorang yang berpengatahuan. Dan sampai sekarang pun, tidak ada yang mengingkari bahwa syair arab merupakan syair yang terindah di dunia. Unsur kebahasaan yang mereka kuasai sangat dalam. Sehingga menjadikan ciri khas tersendiri bagi karya sastra dalam dunia seni.


Selasa, 04 April 2017

Musuhku adalah Kawanku

Banyak dari kita yang masih belum bisa menentukan mana musuh dan mana kawan kita yang sebenarnya. Kemunafikan seseorang kadang membuat kita kesulitan untuk memutuskan akan menjadikannya musuh atau kawan. Fenomena seperti inilah yang saat ini menyelimuti kehidupan seorang muslim, khususnya di Indonesia. Rasa bangga terhadap organisasi masing-masing membuat mereka tidak sadar bahwa sebenarnya orang-orang yang mereka bela mati-matian adalah musuh yang seharusnya mereka perangi. Organisasi keagamaan yang ada di Indonesia seperti NU (Nahdhlatul Ulama), Muhammadiyah, HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) dan organisasi lainnya seakan mempunya skat dan mengklaim bahwa organisasi mereka adalah organisasi yang paling benar. Sehingga, tak jarang diantara mereka yang mempunyai perbedaan pemikiran memicu adanya tindakan yang terkesan menjatuhkan antara satu dan yang lainnya.
Sebenarnya yang harus disadari oleh organisasi-organisasi keagamaan yang ada di Indonesia adalah musuh yang seharusnya mereka perangi, bukan saudara seagama yang hakikatnya sama-sama memperjuangkan agama Allah. Sangat miris jika dalam kubu muslim sendiri banyak yang saling menjatuhkan dan bahkan mencaci saudara seimannya. Mereka sibuk memperbaiki nama organisasi ketimbang nama agama mereka. Sehingga, sadar atau tidak, sikap mereka yang melebih-lebihkan organisasi mereka sendiri cenderung menjatuhkan organisasi saudara mereka, dan yang diuntungkan dari situasi seperti ini adalah musuh mereka, yaitu orang-orang non muslim.
Mari melihat sejarah yang terjadi pada masa Rasulullah, dimana kaum Muhajirin dan Anshar bersatu dan bersama-sama melawan kaum kafir Quraisy. Seandainya kaum Muhajirin dan Anshar tidak sadar siapa kawan dan siapa lawan, bisa jadi kemenangan akan diraih oleh pihak musuh, tapi pada kenyataannya, mereka saling bergandengan tangan untuk menjatuhkan kaum kafir Quraisy (tujuan kaum Anshar dan Muhajirin sama). Pada dasarnya, perbedaan antara satu dengan yang lainnya pasti ada, apalagi dalam sebuah organisasi, tapi dibalik perbedaan itu, harusnya kita tetap sadar bahwa kita mempunya hak dan kewajiban terhadap saudara kita sendiri, dimana kita harus memenuhi kewajiban kita terhadap saudara sesama muslim dan berhak mendapatkan hak kita dari saudara kita. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW.
“Hak seorang muslim terhadap muslim lainnya ada enam yaitu: 1. Jika kamu bertemu dengannya maka ucapkan salam, 2. Jika ia mengundangmu maka penuhilah undangannya, 3. Jika ia meminta nasehat kepadamu maka berilah ia nasehat, 4. Jika ia bersin dan mengucapkan “Alhamdulillah” maka do’akanlah dengan “yarhammukallah,” 5. jika ia sakit maka jenguklah, dan 6. Jika ia meninggal dunia maka iringilah jenazahnya.” (HR. Muslim)
Hadits diatas menggambarkan bagaimana kita sebagai umat muslim harusnya saling menghargai hak-hak saudara kita. Persatuan umat Islam saat ini merupakan kebutuhan yang mendesak, karena agama mayoritas di negeri ini adalah Islam, maka kestabilan negara tergantung dari umat Islam sendiri. Melihat kembali kejadian beberapa bulan yang lalu yang sempat mneghebohkan negeri ini, yaitu permasalahan penistaan agama (Surat Al-Maidah ayat 51) dimana kejadian ini sempat mempersatukan umat Islam untuk bersama-sama menjatuhkan non muslim yang telah menistakan agama, walaupun ada beberapa orang yang masih memberikan dukungan pada penista agama dengan alasan mereka sendiri, tapi melihat umat Islam yang diselimuti emosi, kestabilan negara sempat terganggu. Ini merupakan bukti jika umat Islam bersatu akan membuat musuh gentar, dan kemarahan umat Islam akan membuat kestabilan negara terganggu. 
Saat ini, yang perlu dilakukan oleh ormas-ormas Islam adalah bersatu, karena musuh-musuh Islam saat ini tidak menyerang dengan fisik, tapi dengan pemikiran, yang kita tak sadar bahwa pemikiran kita telah diracuni oleh musuh-musuh kita sendiri. Jika musuh-musuh Islam melihat bahwa ada keretakan antar ormas-ormas Islam, maka hal tersebut akan membuat mereka semakin gencar untuk menyerang umat muslim, karena mereka berpikir bahwa di kubu Islam sendiri sudah terpecah belah, maka akan sangat gampang bagi mereka untuk membuat umat Islam tunduk terhadap mereka. Menentukan kawan atau lawan adalah hal yang harus kita sadari mulai dari sekarang. Alangkah indahnya jika satu ormas mendukung kegiatan ormas lain, asal kegiatan tersebut tidak merugikan agama, kenapa tidak? bukan menghalang-halangi untuk mencari citra oraganisasi sendiri. Ini yang sebenarnya membahayakan posisi umat Islam, mereka mencaci kegiatan organisasi lain dengan alasan agar nama Islam tidak buruk, tapi pada kenyataannya, mereka melakukan itu untuk mengunggulkan organisasi mereka sendiri.
Bukankah sudah jelas apa yang disampaikan oleh Allah dalam kitab-Nya, surat An-Nahl ayat 90. “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”
Artikel ini ditulis bukan untuk membela suatu ormas dan menjatuhkan ormas lainnya. Tapi, artikel ini ditulis semata-mata ingin mengingatkan bahwa sebagai umat Islam, sudah seharusnya kita bersatu. Kita mempunyai tujuan yang sama yaitu membela dan memperjuangan agama. Kita adalah saudara. Tak apa jika kita mempunyai organisasi yang berbeda-beda, tapi tak seharusnya kita lupa bahwa sesama umat muslim harus saling mendukung satu sama lainnya, selama hal itu tidak melanggar hukum syara’. Kita satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain juga akan merasakan sakit. Inilah gambaran yang sebenarnya tentang umat muslim.
Semoga dengan adanya artikel ini bisa membuat kita sama-sama sadar bahwa kita adalah saudara yang harus melindungi saudaranya yang lain. Terlebih untuk ormas-ormas Islam khususnya di Indonesia (NU, Muhammadiyah, HTI dan lainnya). Mari bersama bergandengan tangan, saling membantu, saling mengingatkan jika ada yang salah dengan cara yang ahsan, dan membentuk masyarakat yang lebih mencintai agamanya.

Selasa, 28 Maret 2017

Puasa dan Keutamaan Rajab


Bulan Rajab adalah bulan ke tujuh  dari bulan hijriah (penanggalan  Arab dan Islam). Peristiwa Isra Mi’raj  Nabi Muhammad  shalallah ‘alaih wasallam untuk menerima perintah salat lima waktu diyakini terjadi pada 27 Rajab ini.
Bulan Rajab juga merupakan salah satu bulan haram atau muharram yang artinya bulan yang dimuliakan. Dalam tradisi Islam dikenal ada empat  bulan haram, ketiganya secara berurutan  adalah: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan satu bulan yang tersendiri,  Rajab.
Dinamakan bulan haram karena pada bulan-bulan tersebut orang Islam dilarang mengadakan peperangan. Tentang bulan-bulan  ini, Al-Qur’an menjelaskan:
“ Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

Hukum Puasa Rajab
Ditulis oleh al-Syaukani, dalam Nailul Authar, bahwa Ibnu Subki meriwayatkan dari Muhammad bin Manshur al-Sam’ani yang mengatakan bahwa tak ada hadis yang kuat yang menunjukkan kesunahan puasa Rajab secara khusus. Disebutkan juga bahwa Ibnu Umar memakruhkan puasa Rajab, sebagaimana Abu Bakar al-Tarthusi yang mengatakan bahwa puasa Rajab adalah makruh, karena tidak ada dalil yang kuat.
Namun demikian, sesuai pendapat al-Syaukani, bila semua hadis yang secara khusus menunjukkan keutamaan bulan Rajab dan disunahkan puasa di dalamnya kurang kuat dijadikan landasan, maka hadis-hadis Nabi yang menganjurkan atau memerintahkan berpuasa dalam bulan- bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab itu cukup menjadi hujjah atau landasan. Di samping itu, karena juga tidak ada dalil yang kuat yang memakruhkan puasa di bulan Rajab.
Diriwayatkan dari Mujibah al-Bahiliyah, Rasulullah bersabda “Puasalah pada bulan-bulan haram (mulia).” (Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad). Hadis lainnya adalah riwayat al-Nasa’i dan Abu Dawud (dan disahihkan oleh Ibnu Huzaimah): “Usamah berkata pada Nabi Muhammad Saw, “Wahai Rasulallah, saya tak melihat Rasul melakukan puasa (sunnah) sebanyak yang Rasul lakukan dalam bulan Sya’ban. Rasul menjawab: ‘Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan oleh kebanyakan orang.'”
Menurut al-Syaukani dalam Nailul Authar, dalam bahasan puasa sunnah, ungkapan Nabi, “Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan kebanyakan orang” itu secara implisit menunjukkan bahwa bulan Rajab juga disunnahkan melakukan puasa di dalamnya.
Keutamaan berpuasa pada bulan haram juga diriwayatkan dalam hadis sahih imam Muslim. Bahkan  berpuasa di dalam bulan-bulan mulia ini disebut Rasulullah sebagai puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan. Nabi bersabda : “Seutama-utama puasa setelah Ramadan adalah puasa di bulan-bulan al-muharram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan  Rajab).
Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menyatakan bahwa kesunnahan berpuasa menjadi lebih kuat jika dilaksanakan pada hari-hari utama (al-ayyam al-fadhilah). Hari- hari utama ini dapat ditemukan pada tiap tahun, tiap bulan dan tiap minggu. Terkait siklus bulanan ini Al-Ghazali menyatakan bahwa Rajab terkategori al-asyhur al-fadhilah di samping dzulhijjah, muharram dan sya’ban. Rajab juga terkategori al-asyhur al-hurum di samping dzulqa’dah, dzul hijjah, dan muharram.
Disebutkan dalam  Kifayah al-Akhyar, bahwa bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadan adalah bulan- bulan haram yaitu dzulqa’dah, dzul hijjah, rajab dan  muharram. Di antara keempat bulan itu yang paling utama untuk puasa adalah bulan al-muharram, kemudian Sya’ban. Namun menurut Syaikh Al-Rayani, bulan puasa yang utama setelah al-Muharram adalah Rajab.
Terkait hukum puasa dan ibadah pada Rajab, Imam Al-Nawawi menyatakan “Memang benar  tidak satupun ditemukan hadits shahih mengenai puasa Rajab, namun telah jelas dan shahih riwayat bahwa Rasul saw menyukai puasa dan memperbanyak ibadah di bulan haram, dan Rajab adalah salah satu dari bulan haram, maka selama tak ada pelarangan khusus puasa dan ibadah di bulan Rajab, maka tak ada satu kekuatan untuk melarang puasa Rajab dan ibadah lainnya di bulan Rajab” (Syarh Nawawi ‘ala Shahih Muslim).

Hadis Keutamaan Rajab
Berikut beberapa hadis yang menerangkan keutamaan dan kekhususan puasa bulan Rajab:
Diriwayatkan bahwa apabila Rasulullah shalallahu ‘alahi wassalam memasuki bulan Rajab beliau berdo’a:“Ya, Allah berkahilah kami di bulan Rajab (ini) dan (juga) Sya’ban, dan sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan.” (HR. Imam Ahmad, dari Anas bin Malik)
“Barang siapa berpuasa pada bulan Rajab sehari, maka laksana ia puasa selama sebulan, bila puasa 7 hari maka ditutuplah untuknya 7 pintu neraka Jahim, bila puasa 8 hari maka dibukakan untuknya 8 pintu surga, dan bila puasa 10 hari maka digantilah dosa-dosanya dengan kebaikan.”
Riwayat al-Thabarani dari Sa’id bin Rasyid: “Barangsiapa berpuasa sehari di bulan Rajab, maka ia laksana  berpuasa setahun, bila puasa 7 hari maka ditutuplah untuknya pintu-pintu neraka jahanam, bila puasa 8 hari dibukakan untuknya 8 pintu surga, bila puasa 10 hari, Allah akan mengabulkan semua permintaannya…..”
“Sesungguhnya di surga terdapat sungai yang dinamakan Rajab, airnya lebih putih daripada susu dan rasanya lebih manis dari madu. Barangsiapa puasa sehari pada bulan Rajab, maka ia akan dikaruniai minum dari sungai tersebut”.
Riwayat (secara mursal) Abul Fath dari al-Hasan, Nabi Muhammad Saw bersabda: “Rajab itu bulannya Allah, Sya’ban bulanku, dan Ramadan bulannya umatku.”
Sabda Rasulullah SAW lagi : “Pada malam mi’raj, saya melihat sebuah sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih sejuk dari air batu dan lebih harum dari minyak wangi, lalu saya bertanya pada Jibril a.s.: “Wahai Jibril untuk siapakan sungai ini ?”Maka berkata Jibrilb a.s.: “Ya Muhammad sungai ini adalah untuk orang yang membaca salawat untuk engkau di bulan Rajab ini”.


Mengamalkan Hadis Daif Rajab
Ditegaskan oleh Imam Suyuthi dalam kitab al-Haawi lil Fataawi bahwa hadis-hadis tentang keutamaan dan kekhususan puasa Rajab tersebut terkategori dha’if (lemah atau kurang kuat).
Namun dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah sebagaimana biasa diamalkan para ulama generasi salaf yang saleh telah bersepakat mengamalkan hadis dha’if dalam konteks fada’il al-a’mal (amal- amal utama).

Syaikhul Islam al-Imam al-Hafidz al- ‘Iraqi dalam al-Tabshirah wa al- tadzkirah mengatakan: “Adapun hadis dha’if yang tidak maudhu’ (palsu), maka para ulama telah memperbolehkan mempermudah dalam sanad dan periwayatannya tanpa menjelaskan kedha’ifannya, apabila hadis itu tidak berkaitan dengan hukum dan akidah, akan tetapi berkaitan dengan targhib (motivasi ibadah) dan tarhib (peringatan) seperti nasehat, kisah-kisah, fadha’il al-a’mal dan lain- lain…..”. Wallahu a’lam

Sabtu, 25 Maret 2017

Tipe Wanita dalam Al-Qur'an


Sahabat Buletin Santri, Allah SWT menciptakan kita berjenis kelamin laki-laki dan perempuan dengan keadaan yang bermacam-macam. Ada banyak kisah dari umat terdahulu yang telah diceritakan oleh Allah dalam firman-Nya. Dari berbagai kisah tersebut, beberapa diantaranya menceritakan tentang wanita-wanita dengan tipe yang berbeda-beda Setidaknya ada lima tipe wanita yang disebutkan Allah SWT dalam Al-Quran.

Pertama, tipe pejuang.

Wanita tipe pejuang memiliki kepribadian kuat. Ia berani menanggung risiko apa pun saat keimanannya diusik dan kehormatannya dilecehkan. Tipe ini diwakili oleh Siti Asiyah binti Mazahim, istri Fir'aun.

Walau berada dalam cengkraman Fir'aun, Asiyah mampu menjaga akidah dan harga dirinya sebagai seorang muslimah. Asiyah lebih memilih istana di surga daripada istana di dunia yang dijanjikan Fir'aun. Allah SWT mengabadikan doanya:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (11)

"Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata : Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang zalim”. (QS At Tahriim [66]: 11).

Kedua, tipe wanita shalihah yang menjaga kesucian dirinya.

Tipe ini diwakili Maryam binti Imran. Hari-harinya ia isi dengan ketaatan kepada Allah. Ia pun sangat konsisten menjaga kesucian dirinya.

قَالَتْ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا (20)

“Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!”. (QS Maryam [19]: 20).

Karena keutamaan inilah, Allah SWT mengabadikan namanya sebagai nama salah satu surat dalam Al-Quran. Maryam pun diamanahi untuk mengasuh dan membesarkan kekasih Allah, Isa putra Maryam (QS Maryam [19]: 16-34). Allah SWT memuliakan Maryam bukan karena kecantikannya, namun karena keshalihan dan kesuciannya.

Ketiga, tipe penghasut, tukang fitnah dan biang gosip.

Tipe ini diwakili Hindun, istrinya Abu Lahab. Al-Quran menjulukinya sebagai "Pembawa Kayu Bakar" alias penyebar fitnah. Dalam istilah sekarang wanita penyiram bensin.

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ (1) مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ (2) سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ (3) وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ (4) فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ (5)

“Binasalah keduatangan Abu Lahab dan sesungguhnya ia akan binasa. Demikian pula istrinya, pembawa kayu bakar yang di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal”. (QS Al Lahab [111]: 1-5).

 Bersama suaminya, Hindun bahu membahu menentang dakwah Rasulullah SAW, menyebar fitnah dan melakukan kezaliman. Isu yang awalnya biasa, menjadi luar biasa ketika diucapkan Hindun.

Keempat, tipe wanita penggoda.

Tipe ini diperankan Zulaikha saat menggoda Nabi Yusuf. Petualangan Zulaikha diungkapkan dalam Al-Quran, sebagaimana berikut :

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ (23)

“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata, “Marilah ke sini”. Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung”. (QS Yusuf [12]: 23).

Kelima, tipe wanita pengkhianat dan ingkar terhadap suaminya.

Allah SWT memuji wanita yang taat kepada suaminya yang zalim, seperti dilakukan perempuan Fir'aun (Siti Asiyah binti Mazahim). Namun, pada saat bersamaan Allah pun mengecam perempuan yang bekhianat kepada suaminya (yang saleh). Istrinya Nabi Nuh dan Nabi Luth mewakili tipe ini. Saat suaminya memperjuangkan kebenaran, mereka malah menjadi pengkhianat dakwah.

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ (10)

“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shaleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya), Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).” (QS At Tahriim [66]: 10).

Wanita-wanita yang dikisahkan Al-Quran ini hidup ribuan tahun lalu. Namun karakteristik dan sifatnya tetap abadi sampai sekarang. Ada tipe pejuang yang kokoh keimanannya. Ada wanita salehah yang tangguh dalam ibadah dan konsisten menjaga kesucian diri. Ada pula tipe penghasut, penggoda dan pengkhianat. Terserah kita mau pilih yang mana. Bila memilih tipe pertama dan kedua, maka kemuliaan dan kebahagiaan yang akan kita dapatkan. Sedangkan bila memilih tiga tipe terakhir, kehinaan di dunia dan kesengsaraan akhiratlah akan kita rasakan.

وَلَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ آيَاتٍ مُبَيِّنَاتٍ وَمَثَلًا مِنَ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ (34)

“Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada Kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum Kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS An Nuur [24]: 34).

Termasuk dari tipe manakah kita wahai Sahabat Buletin Santri? Wallaahu a'lam.
 

Tim Redaksi Buletin Santri Nurul Ulum. Diberdayakan oleh Blogger.