Munas Alim Ulama dan Konbes Nahdlatul Ulama

Selamat dan Sukses Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama pada 24-26 November 2017 di Islamic Center Lombok, NTB.

Selamat Hari Santri Nasional

Selamat Hari Santri Nasional 2017. Santri Mandiri, NKRI Hebat. Santri NUsantara.

Maulid Nabi Muhammad SAW 1439 H

Mari tumbuhkan sikap terpuji dengan meneladani akhlak Nabi.

Revolusi Digital NU

Semoga dengan diluncurkannya layanan digital ini dapat memenuhi kebutuhan umat di era serba digital.

Hari Santri Nasional

Keluarga Besar Pondok Pesantren Nurul Ulum mengucapkan Selamat Hari Santri Nasional. Santri Mandiri, NKRI Hebat.

Tampilkan postingan dengan label Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hidup. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Oktober 2017

Tipe Keluarga dalam Al-Qur'an


Kebahagiaan adalah target utama dalam membina rumah tangga. Bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. Apa gunanya menikah dan membangun keluarga, tetapi yang ada hanyalah terasa sesak dada, sengsara penuh derita, dan diri menjadi terpuruk. Justru fitrah manusia itu sesuai dengan fitrah pernikahan yaitu sebagai muara kebahagiaan dan ketenangan hidup. 

Siapapun yang membnagun rumah tangga, kaya ataupun miskin, pejabat maupun rakyat, gubernur atau abang bajigur, semuanya adalah berangkat terhadap satu tujuan yaitu mencapai kehidupan yang layak dan membahagiakan. Bagi kita keluarga muslim, selayaknya tujuan hidup difokuskan pada tujuan ukhrawi (akhirat) karena tiada manfaat jika di dunia kita senang tapi di akhirat malah sengsara. Baiknya, di dunia kita senang dan bahagia, di akhirat kita bersuka cita meraih surga.

Pada kenyataannya, ada empat tipe keluarga yang bisa kita pelajari dan teladani atau hindari.

Pertama, tipe keluarga Abu Lahab. Keluarga Abu Lahab adalah tipe keluarga yang paling buruk. Pasalnya, suami dan istri, keduanya berada di dalam kemaksiatan kepada Allah. Suami tukang judi, istri pengedar ekstasi. Suami tidak pernah shalat, istri tukang ngumpat. Suami pendusta, istri tukang zina. Na’udzubillah min dzalik. Keluarga tipe ini bukanlah keluarga yang patut kita teladani.

Kedua, tipe keluarga Fir’aun. Suaminya ahli maksiat, istrinya ahli taat. Tipe masih mendingan dibanding dengan tipe pertama karena istrinya dipastikan masuk serga tetapi suami masuk neraka. Namun, apakah sudi suami Anda menjadi nahli neraka sedangkan Anda senang-senang dalam kebahagiaan akhirat (surga)? Saya kira, tidak. Tidak ada istri yang menginginkan suaminya celaka. Jika ada, inilah istri yang buruk di mata agama dan sesama. Maka, ikhtiar meluruskan dan mengarahkan suami yang tidak taat kepada Allah menjadi suat hal yang sangat wajib bagi istri. Ketika sudah berikhtiar, hasilnya serahkan kepada Allah. Istri akan terlepas dari dosa tetang hal ini.

Ketiga, tipe keluarga Nabi Nuh a.s.. Suaminya ahli ibadah, istrinya ahli bid’ah. Suaminya muwahhid (ahli tauhid), istri musyrikah (ahli syirik). Suami masuk surga, istri ke neraka. Sudikah pula Anda, wahai para suami, melihat istri berada dalam kesengsaraan dan siksa Allah? Jawabnnya harus tidak. Jika tidak “tidak” berarti Anda adalah suami egois. Dan, suami seperti inilah yang nanti akan diminta pertanggungjawaban atas keteledorannya membiarkan istri dalam kemaksiatan dan kemusyrikan. Kecuali jika Anda sudah berusaha, kemudian istri Anda tidak pula berubah, maka Anda tidak didakwa oleh Allah kelak di akhirat layaknya Nabi Nuh a.s..

Keempat, tipe keluarga Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Muhammad saw.. Suami dan isri keduanya adalah ahli taat, ahli ibadah, ahli tauhid, ahli sedekah, ahli shalat. Mereka berdua senantiasa saling memerhatikan dan memberi arahan takut-takut terjerembab ke dalam lubang maksiat. Sekali mereka terjerumus ke lembah dosa dan maksiat, mereka segera beristigfar dan meninggalkan dosa yang dikerjakannya. Tobat dengan tobat yang sebenarnya (taubatan nashuha).

Sahabat muslim yang taat, mau memilih tipe yang mana kita? saya yakin, tidak ada pilihan jitu kecuali memilih tipe keluarga yang keempat. Menjadi keluarga selayak keluarga Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Muhammad saw.. Oleh karena itu, mari sama-sama berjuang membangun keluarga SAMARA (sakinah, mawaddah, rahmah) sepanang masa.


Kiat-kiatnya, (1) menjadi keluarga berilmu, (2) menjadi keluarga yang menyesuaikan amal dengan ilmu, (3) menjadi keluarga yang saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran, dan (4) menjadi keluarga yang senantiasa syukur dan sabar menyikapi kehidupan.

Kamis, 30 Maret 2017

Kisah Cinta Qays dan Layla


Laila Majnun adalah sebuah kisah dari rakyat arab, tentang kecantikan seorang gadis bernama Laila, yang menarik hati seorang pemuda, Qais keturunan Bani Amir.
Qais yang semula pandai, gagah dan berasal dari kabilah terhormat, menjadi majnun alias gila, karena kasihnya yang tak sampai. Qais, yang tersiksa karena takdir yang selalu memusuhinya, sedang hasrat tak mampu ditundukan hatinya, menjadikan dia lupa akan hakikat hidupnya sendiri. Walau kegilaan yang dialaminya mengilhami tutur bahasa sastra yang indah, dan ketulusan jiwa dalam derita cinta, tetap saja sebutan majnun tak dapat ditepisnya.
Kisah tentang Qais dan Laila yang hidup di suatu negeri wilayah tanah Arab. Qais yang berwajah tampan dan Laila yang terkenal akan kecantikannya, yang menjadi dambaan setiap laki-laki. Akhirnya cinta mereka kandas karena adat melarang mereka untuk mengekspresikan gelora cintanya. Maka, tumpah ruahlah segala rasa rindu dan cinta dalam bentuk syair dan puisi yang mengalir menentang takdir mereka.
Suatu ketika Qais memutuskan ikut berniaga ke negeri lain bersama ayahnya agar kelak ia memiliki bekal pengetahuan sendiri tentang perniagaan. Ketika pamit kepada Laila, Qais memberikan seuntai kalung mutiara sebagai tanda kesetiaannya. Qais minta Laila berjanji untuk melepaskan sebuah mutiara dari untaiannya apabila waktu sudah menunjukkan bulan baru. Ia pun berjanji akan kembali sebelum untaian mutiara habis.
Meskipun sangat sedih, Laila merelakan kekasihnya pergi mencari pengalaman.
Sepeninggal Qais, Laila hanya bermenung diri dan menciptakan syair sebagai pelambang rindu. Suatu hari, ayah Laila, Al-Mahdi, pulang ke rumah bersama seorang tamu bernama Sad bin Munif, yang diajak menginap. Tamu itu seorang saudagar kaya raya yang berasal dari Irak. Ketika berjumpa Laila, Sad bin Munif langsung jatuh cinta dan melamar Laila kepada ayahnya. Tanpa sepengetahuan Laila, Al-Mahdi menerima lamaran tersebut karena tergiur oleh mas kawin 1.000 dinar dan harta kekayaan Sad bin Munif. Laila tak berdaya melawan perintah ayahnya karena adat memang menyatakan bahwa laki-laki berkuasa atas perempuan. Sementara itu, Qais yang telah memasuki bulan ke-9 ikut berniaga ke negeri-negeri seperti Damsjik, Jerusalem, Hims, Halab, Anthakijah, Irak, Koefah, hingga Basrah tidak dapat lagi menahan rindunya terhadap Laila. Wajahnya tampak muram dan badannya semakin kurus.
Ayah Qais melihat kesedihan anaknya dan menanyakan ada apakah gerangan yang telah mengganggu pikirannya. Akhirnya Qais berterus terang tentang kisah cintanya dengan Laila. Demi mendengar penuturan anaknya, Al-Mulawwah memutuskan segera kembali ke kampung halamannya dan berjanji akan melamar Laila untuk Qais. Ketika sampai kampung halaman, Al-Mulawwah bergegas menemui ayah Laila dan menawarkan 100 unta sebagai pengganti uang 1.000 dinar yang telah diberikan Sad bin Munif. Akan tetapi, dengan sombongnya, ayah Laila menolak lamaran Al-Mulawwah. Tak berapa lama kemudian, pesta perkawinan Laila dan Sad bin Munif diselenggarakan secara besar-besaran. Maka, hancur luluhlah hati Qais. Tak ada satu obat pun yang bisa menyembuhkan sakitnya ini, meskipun orangtuanya telah mendatangkan banyak tabib ternama. Sejak itu Qais tidak mau berbicara kepada orang lain, ia sibuk dengan dirinya sendiri dan sering kali terlihat berbicara sendiri. Karena perilaku aneh inilah orang sekampungnya memanggil Qais dengan Majnun, yang berarti kurang sempurna pikirannya.
Akan halnya Laila, meskipun kini telah menjadi istri Sad bin Munif, ia tetap mencintai Qais. Menurut Laila, secara fisik ia boleh menjadi istri Sad bin Munif, tetapi jiwanya tetap untuk Qais. Dalam ungkapannya, di dunia Qais dan Laila bukanlah pasangan suami istri, tetapi di akhirat mereka menjadi pasangan abadi. Karena tak kuat menanggung penderitaan cinta ini, Laila sakit dan selalu memanggil nama Qais. Akhirnya Qais pun dipanggil untuk menemui Laila. Ketika mereka bertemu, Laila memberi pesan terakhir bahwa mereka akan bertemu nanti di akhirat sebagai sepasang kekasih. Demi melihat kekasihnya meninggal, putus asalah Qais. Tak ada lagi keinginannya untuk hidup. Sehari-hari kerjanya hanya duduk di pusara Laila hingga akhirnya Qais meninggal. Maka, jasad Qais pun dibaringkan di samping pusara Laila.

Kira-kira 10 tahun kemudian, beberapa musafir menziarahi kubur mereka berdua. Di atas kedua pusara itu telah tumbuh dua rumpun bambu yang pucuknya saling berpelukan. Maka, masyhurlah kisah ini sebagai kisah Laila-Majnun.

Rabu, 29 Maret 2017

Strategi Jitu Pengelolaan Uang


Sahabat Buletin Santri, memiliki penghasilan besar hingga puluhan juta per bulan, mungkin menjadi harapan banyak orang. Penghasilan besar, hidup pun nyaman. Demikian rumus umum yang dipercaya oleh kebanyakan kalangan.

Tapi, apakah benar demikian? Penghasilan besar bukanlah jaminan hidup akan selalu nyaman. Gaji berpuluh juta belum tentu menjauhkan seseorang dari masalah keuangan.

Kuncinya ada pada pengelolaan keuangan yang tepat. Kalangan dengan penghasilan minimal juga bisa menjalankan hidup nyaman tanpa dibebani dengan masalah keuangan, selama pengelolaan uang mereka bijaksana.

Nah, strategi apa yang perlu Sahabat terapkan agar terhindar dari masalah keuangan kendati memiliki penghasilan minim? Simak tips berikut ini:

1. Biasakan mengetahui pola keuangan pribadi
Setiap hari, biasakan mencatat pengeluaran dengan detail. Selama sebulan, Anda akan mendapatkan catatan pengeluaran pribadi dan bisa mempelajari dengan baik. Apakah dalam daftar tersebut ada keputusan belanja yang kurang tepat?
Bertanyalah pada diri sendiri, apakah ada transaksi atau pembelian barang yang sebenarnya lebih bersifat “keinginan” ketimbang “kebutuhan”? Dari histori pengeluaran tersebut, Anda juga dapat melihat pos pengeluaran mana saja yang bisa Anda tekan.

2. Pilih-pilih pengeluaran dan berhematlah
Melihat pola keuangan pribadi akan memudahkan Anda melakukan evaluasi dan membuat kebijakan. Mana pos pengeluaran yang bisa Anda tekan atau hilangkan. Aksi penghematan seperti apa yang dapat Anda terapkan segera.
Misalnya, dari penghematan biaya makan sehari-hari, biaya transportasi, biaya listrik dan pulsa telpon, dan lain sebagainya. Hitunglah nilai peluang penghematan dan mulailah mengalihkannya menjadi tabungan.

3. Menabunglah walau dari nilai terkecil
Anda harus percaya ungkapan, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Bila saat ini Anda baru bisa menyisihkan uang tak sampai Rp 100.000 per bulan untuk ditabung, tetaplah lakukan itu.
Tabunglah uang sedapatnya. Jangan karena nilainya sedikit maka Anda merasa akan sia-sia menyisihkan demi masa depan. Menabung dari uang receh kembalian yang sering terlupakan juga bisa Anda praktekkan.

4. Mulailah investasi
Berpendapatan minim bagaimana bisa investasi? Jawabannya adalah bisa. Anda bisa berinvestasi dari modal uang yang Anda sisihkan sebagai tabungan itu di instrument investasi bermodal ringan.
Misalnya, mengambil tabungan emas di Pegadaian atau mulai membeli reksadana yang bisa Anda beli dengan modal ringan. Investasi merupakan salah satu cara ampuh melawan inflasi atau penurunan nilai uang.

5. Carilah pendapatan tambahan
Selain mengelola keuangan dengan baik dan memulai investasi, supaya tingkat keuangan Anda lebih baik, pikirkanlah mencari nafkah tambahan.
Zaman digital seperti saat ini membuka banyak peluang bagi Anda mencari pendapatan. Misalnya, menjadi ojek online, berjualan barang secara online dengan menjadi dropshipper atau reseller, dan lain sebagainya.

Manfaat Membaca



Siapa diantara Sahabat Buletin Santri yang gemar membaca? Aku yakin, pasti semuanya gemar membaca !. Nah, kali ini, Sahabat Buletin Santri akan memberikan berbagai manfaat dari gemar membaca. Hmmm, seperti apa ya? Yuk, simak manfaat-manfaat berikut !

1.      Melatih kemampuan berpikir

Otak ibarat sebuah pedang, semakin diasah akan semakin tajam. Begitu juga sebaliknya.

Lalu apa alat yang efektif untuk mengasah otak?

Jawabannya adalah membaca. Menurut Astri Novia (2010) pilihlah satu jenis buku yang Anda sukai, seperti literatur klasik, fiksi ilmiah, atau buku pengembangan diri. Dengan cara ini otak akan bertambah kuat. Bacalah buku sebanyak mungkin. Menurut para ahli, keuntungan dari membaca buku dapat memberikan dampak yang menyenangkan bagi otak kita. Membaca juga membantu meningkatkan keahlian kognitif dan meningkatkan perbendaharaan kosakata.

2.      Meningkatkan Pemahaman

Contoh nyata dari manfaat ini banyak dirasakan oleh siswa maupun mahasiswa. Di mana membaca dapat meningkatkan pemahaman dan memori, yang semula tidak mereka mengerti menjadi lebih jelas setalah membaca. Secara logika, tidak mungkin siswa atau mahasiswa memahami materi pelajaran/kuliah jika mereka tidak membaca. Jelas sudah, bahwa membaca sangat berperan dalam membantu seseorang untuk meningkatkan pemahamannya terhadap suatu bahan/materi yang dipelajari.

3.      Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan

Manfaat yang satu ini mungkin Sahabat Buletin Santri sudah sering mendengar sejak kecil. Kita pasti ingat berapa kali guru-guru kita mengingatkan bahwa membaca adalah satu sarana untuk membuka cakrawala dunia. Dengan memiliki banyak wawasan dan ilmu pengetahuan, kita akan lebih percaya diri dalam menatap dunia. Mampu menyesuaikan diri dalam berbagai pergaulan dan tetap bisa survive dalam menghadapi gejolak zaman.

4.      Mengasah kemampuan menulis

Selain menambah wawasan dan ilmu pengetahuan, membaca juga bisa mengasah kemampuan menulis Sahabat Buletin Santri. Selain itu, Sahabat juga bisa mendapat bahan menulis semakin luas, Sahabat juga bisa mempelajari gaya-gaya menulis orang lain dengan membaca tulisannya. Lewat membaca Anda bisa mendapatkan kekayaan ide yang melimpah untuk menulis.

5.      Mendukung kemampuan berbicara di depan umum

Membaca adalah aktivitas yang akan membuka cakrawala dan pengatahuan kita terhadap dunia. Terbatasnya jangkauan diri kita terhadap peristiwa-peristiwa di dunia, hanya bisa dijangkau dengan membaca. Selain mendapatkan informasi tentang berbagai peristiwa, membaca juga mampu meningkatkan pola pikir, kreativitas dan kemampuan verbal, karena membaca akan memperkaya kosa kata dan kekuatan kata-kata. Meningkatnya pola pikir, kreativitas dan kemampuan verbal akan sangat mendukung dalam meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum.

6.      Meningkatkan Konsentrasi

Orang yang suka membaca akan memiliki otak yang lebih konsentrasi dan fokus. Dengan ini, pembaca akan memiliki kemampuan untuk memiliki perhatian penuh dan praktis dalam kehidupan. Ini juga mengembangkan keterampilan objektivitas dan pengambilan keputusan.

7.      Menjauhkan risiko penyakit Alzheimer

Membaca benar-benar dapat langsung meningkatkan daya ikat otak. Ketika membaca, otak akan dirangsang dan stimulasi (rangsangan) secara teratur dapat membantu mencegah gangguan pada otak termasuk penyakit Alzheimer. Penelitian telah menunjukkan bahwa latihan otak seperti membaca buku atau majalah, bermain teka-teki silang, Sudoku, dan lain-lain dapat menunda atau mencegah kehilangan memori. Menurut para peneliti, kegiatan ini merangsang sel-sel otak dapat terhubung dan tumbuh.

8.      Sarana Refleksi dan Pengembangan Diri

Kita dapat mengetahui pemikiran seorang pengusaha atau seorang trainer tanpa kita harus menjadi pengusaha atau trainer. Artinya kita bisa mempelajari bagaimana cara orang lain dalam mengembangkan diri. Ini penting bagi kita sebagai bahan pertimbangan atau pembanding sebelum kita melakukan suatu hal.

Oke! Gimana Sahabat Buletin Santri? Sudah jelas kan? Kalau membaca itu banyak sekali manfaatnya. Jika kalian tertarik dengan salah satu mafaat atau berbagai manfaat di atas, kenapa kita tidak mencobanya mulai dari sekarang?

Wallahu a'lam bishowab

Senin, 27 Maret 2017

Belajar dari Anak Kecil


Sahabat Buletin Santri, saat kita masih kecil, orang-orang di sekitar kita banyak yang berkata tentang cita-cita. “Cita-citamu apa, Nak ?”, “Nanti pingin jadi apa ?”, dan lain sebagainya. Mereka berkata bahwa langit itu tinggi dan tidak ada batasnya, maka cita-cita kita juga harus sebagaimana langit, tinggi dan tanpa batas. Maka ketika itu, saya putuskan ingin jadi dokter.

Namun, ketika kita telah dewasa, orang-orang akan menasihati kita agar kita tidak terlalu tinggi dalam bercita-cita, karena jika cita-cita itu tidak tercapai kita akan merasakan kecewa dan sakit hati. Benar-benar nasihat yang sangat bertolak belakang. Mereka hanya bilang, “Sekolah saja yang serius, rajin dan tekun. Kita ini keturunan siapa, kamu sekolahnya di mana, mana mungkin jadi dokter”.

Saya hanya diam dan berusaha memahami, serta meyakinkan bahwa tidak mungkin seperti saya ini akan mencapai cita-cita yang diharapkan.

Semakin bertambah usia, akhirnya saya mengerti bahwa menjadi seorang anak tidak saja hanya mengikuti apa yang disampaikan oleh orang tua dan orang di sekitar kita. Ada pembelajaran kegagalan dari anak kecil. Anak kecil yang lugu dan tidak ingin diperintah, selalu bereaksi.

Maka jangan heran juga kalau Anda menemukan bahwa anak kecil adalah makhluk yang unik, paling pemberani diseluruh dunia. Karena dia tidak takut apapun, dia punya imajinasi yang sangat “liar” karena telah dikondisikan demikian oleh orang dewasa di sekitarnya.

Untuk sukses kita perlu belajar dari anak kecil. Selain tidak takut apa pun, anak kecil juga sangat keras kemauannya. Seorang anak akan menangis sedemikian rupa, atau marah sedemikian rupa untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Kita bisa belajar dari “keuletan” anak kecil untuk meraih keinginannya.

Gagal dan sukses itu seperti permainan dadu. Lima sisi dadu adalah gagal dan angka 6 adalah sukses. Semakin sering kita melempar dadu, semakin besar kemungkinan kita mendapatkan angka 6. Semakin sering kita mencoba dan gagal, berarti semakin dekat kita dengan kesuksesan.

Sukses hanya masalah statistik, masalah waktu, masalah hitung-hitungan saja.


Jadi sudah berapa banyak kegagalan yang Anda dapatkan?

Minggu, 26 Maret 2017

Saya Mintanya Radio Sony, bukan yang lain !!!


Waktu saya kecil, saya pernah mendengar suatu cerita lucu. Namun di balik kelucuannya ada hikmah yang bisa kita ambil pelajarannya. Waktu mendengarkan cerita ini, kami tertawa, karena lucunya. Tapi sekarang saya berpikir, jangan-jangan, selama ini saya sering ditertawakan orang lain seperti saya menertawakan tokoh yang ada dalam cerita ini. Bagaimana dengan Kalian, Sahabat Buletin Santri? Mungkin orang lain pun suka menertawakan Anda.

Ada seorang bapak dari kampung. Bapak ini tidak bisa membaca, tetapi dia tertarik dengan mendengarkan radio seperti tetangganya. Belum ada TV karena belum ada listrik, sehingga radio menjadi primadona karena bisa dijalankan dengan baterai. Bapak itu pun memutuskan untuk pergi ke kota untuk membeli sebuah radio. Dia bertanya kepada tetangganya, dimana membeli radio dan radio yang seperti apa yang bagus.

Dia mendapatkan info tempat membeli radio dan cara memilih radio yang bagus. Kata tetangganya, radio yang bagus adalah radio Sony. Dengan berbekal uang Rp 500.000 dan ongkos perjalanan, dia pun pergi ke kota untuk membeli sebuah radio. Setelah berjalan, naik ojek, naik angkutan pedesaan, dan angkotan kota sambil tanya sana sini, akhirnya dia sampai juga di tempat yang menjual barang elektronik, tentu saja salah satunya radio.

Sesampainya di toko tersebut, bapak ini langsung bertanya kepada pelayan toko,
“Ada radio Sony mbak?”
Dengan ramahnya pelayan menjawab, “Tentu saja ada. Silahkan pilih ada berbagai model.” sambil menunjukan rak yang berisi khusus radio bermerk Sony.
Ternyata si bapak bingung mau memilih mana karena semua radio tampaknya bagus.
“Bapak mau yang mana?” tanya si pelayan.
“Saya bingung.” kata si bapak sambil terus memperhatikan sederetan radio.
“Oh, bapak mau membeli radio yang harga berapa?” tanya si pelayan tetap ramah.
“Saya punya uang Rp 500.000”. jawab si bapak.
“Oh begitu, mungkin bapak cocok dengan radio ini. Harga Rp500.000 kurang.”
“Ya sudah, saya beli yang itu. Betulkan ini radio Sony?”
“Betul pak, ini Radio Sony.”
Setelah transaksi selesai, si bapak pun pulang ke kampung dengan senangnya. Tetapi keesokan harinya si bapak kembali lagi ke toko tersebut sambil marah-marah…
“Katanya ini Radio Sony, ternyata bukan. Kalian mau menipu saya?” katanya dengan keras sambil menunjukan radionya.
Para pelayan takut, karena tampilan si bapak kayak seorang pendekar dengan baju silatnya. Akhirnya pemilik toko tersebut menghampiri bapak tersebut.
“Ada yang bisa saya bantu pak.”
“Pelayan kamu menipu saya, katanya ini radio Sony, ternyata bukan!”
Pemilik toko bingung, sebab dia tahu kalau radio itu memang bermerk Sony.
“Betul pak, ini radio Sony.” kata pemilik toko berusaha menjelaskan.
“Bukan! Saat saya nyalakan radio, radio ini berbunyi: ‘Inilah radio Republik Indonesia.’ Kalian menipu saya, sebab ini bukan radio Sony, tetapi radio republik Indonesia!”

Bagaimana kelanjutan kisah ini? Silahkan lanjutkan sendiri.


Belajarlah terus, karena bisa saja ilmu yang kita miliki sudah kadaluarsa atau bahkan salah. Kita terus meyakini apa yang kita tahu sehingga semua perilaku kita didasari oleh keyakinan tersebut. Mungkin benar menurut kita, karena sebatas itulah ilmu kita. Tetapi belum tentu menurut orang lain. Bisa saja, saat kita berdebat dan merasa pintar, padahal di belakang kita, lawan debat kita malah menertawakan kita. Belajarlah sampai akhir hayat.

Ciri-Ciri Istri yang Pandai Bersyukur




الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ (رواه مسلم)

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholihah.” (HR. Muslim)

Ada seorang ibu yang memiliki kehidupan mapan, anak-anak cerdas dan patuh, suami enggak neko-neko, tapi kenapa ya masih saja galau? Selalu saja ada kata-kata pedas yang keluar darinya setiap hari. Setelah puas melontarkan kata-kata makian, ibu itu berubah jadi pihak yang paling teraniaya. Terus maunya apa? Bingung. Korbannya siapa lagi jika bukan anak-anak dan suaminya. Sekilas, orang lain memandangnya bahagia. Impian semua wanita gitu. Enggak perlu repot-repot kerja keras, anak-anak cerdas dan membanggakan, pun suami yang enggak macam-macam. Tapi kenapa Ibu tadi masih merasa kurang? Selalu saja ada yang salah di matanya. Jadi meskipun memiliki segalanya, ibu tersebut merasa tidak bahagia. Miris.

Sementara itu di tempat yang berlainan, ada seorang istri yang masih harus berjuang banyak hal, ikut mencari nafkah agar kebutuhan tercukupi, serta masih harus mengurus anak-anak sendiri tanpa ART, yang ternyata merasa sangat bahagia dan menikmati kesibukannya. Sekilas orang lain memandangnya kasihan, tapi nyatanya ibu itu bahagia.

Bahagia memang ada di hati, bukan ada di tampilan luar dan kata orang.

Sahabat Buletin Santri, salah satu kunci kebahagiaan rumah tangga adalah adanya rasa syukur: perbanyak syukur, minimalisir tuntutan & teruslah berusaha. Sabar, syukur, ikhlas.

Jika seorang istri pandai bersyukur, suami tenang, anak-anak aman, dan rumah terasa lapang. Pun sebaliknya, jika rasa syukur tidak ada, rumah yang megah pun akan serasa sempit karena hati dan pikiran yang tidak pernah terpuaskan.

Lalu, apa saja indikator seorang istri bersyukur? Beberapa hal sederhana di bawah ini bisa menjadi tandanya.

1.      Tidak mengungkit kebaikan dirinya

"Kalau bukan karena aku ..."

"Aku udah ngurusin anak-anak ..."

Dan kata-kata serupa yang seolah minta bayaran. Anak pun akan merasa terluka jika ibunya sering berkata seperti itu. Allah tidak akan menyia-nyiakan siapa pun yang berbuat baik. Allah tahu siapa yang modus, mengharap pujian, dan yang tulus. Istri yang pandai bersyukur akan selalu percaya dengan janji Allah. Percaya bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakannya.

2.      Tidak merasa paling berkorban

"Dulu kan sebenarnya mama diterima di anu, nikah sama papamu sih," dikit, tapi nancep.

Jadi menyesal menikah dan punya anak?

Istri yang pandai bersyukur tidak akan merasa dirinya paling banyak berkorban karena dia melakukan semuanya dengan senang hati, bukan sekadar kewajiban semata.

3.      Tidak mengungkit-ungkit perjuangannya terus-terusan di depan orang-orang hanya agar mendapat decak kagum

"Jadi dulu itu ya awal aku nikah deuh rumah cuma sepetak, makan sepiring berdua, dll. Kamu sih enak ya ...," nah.

Buat apa cerita terus-menerus seperti itu kemudian membandingkan dan menyalahkan pasangan suami istri yang enggak gitu kalau tujuannya bukan untuk "ini lhoh guee, nihh,"

Padahal setiap pasutri pasti memiliki perjuangannya masing-masing. Ada yang enggak perlu repot-repot berjuang finansial, tapi berjuang masalah anak. Ada yang enggak berjuang masalah anak karena langsung diberi, tapi berjuang di hal yang lain. Nah. Emang situ aja yang berjuang. Enggak, kan.

Istri yang pandai bersyukur tidak akan lebay. Dia paham bahwa setiap pasutri pasti berjuang, pun dirinya dan suami. Selama perjuangan itu dilakukan dengan orang yang dicintai (pasangan hidup), ya seruu ajaa, nikmati aja, enggak perlu ngeluh atau membandingkan apalagi merasa paling kuat atau hebat.

4.      Menjaga martabat suami di depan orang lain

Suami adalah pakaian istri dan istri adalah pakaian suami. Keduanya harus saling menjaga aib masing-masing, bukan sebaliknya.

"Dia dulu kan flamboyan. Untung nikah sama aku," apa perlu seperti itu?

Istri yang pandai bersyukur akan menerima semua masa lalu suami dan tidak akan menggunakan masa lalu suami yang mungkin kelam sebagai bahan olokan di depan publik.

5.      Menghargai usaha suami

Orang bijak bilang tidak ada yang namanya kegagalan, yang ada adalah belajar.

Ada kalanya usaha suami belum berhasil. Di saat itulah peran istri sangat sangat diperlukan. Kalimat seperti, "Gagal lagi gagal lagi. Gagal mulu sih, Bang!" adalah kalimat yang tidak sepantasnya keluar dari mulut sang istri meskipun maksudnya untuk memotivasi.

Tidak harus dengan menusuk dan menyakiti kan memotivasi pasangan itu?

Istri yang pandai bersyukur akan paham bahwa yang namanya usaha itu enggak selamanya lancar. Saat usahanya melambung, bersyukur. Saat usaha suaminy menurun, bersabar dan mengevaluasi.

6.      Jauh dari mindset istri aja yang menderita

Menikah adalah kesepakatan bersama. Toh wanita sangat berhak menolak laki-laki yang mencintainya jika dia tidak cinta. Jadi kalau memang menikah adalah kesepakatan berdua, kenapa salah satunya selalu merasa jadi pihak yang terzolimi. Lha dulu kenapa mau? Kenapa bahagia sekali berada di posisi sebagai korban. Kalau toh tidak ada kecocokan bisa pisah baik-baik daripada bersama tapi selalu merasa jadi pihak yang teraniaya.

Dan istri yang pandai bersyukur tidak akan bahagia memposisikan dirinya sebagai pihak yang paling menderita. Dia jauhi mindset merusak seperti itu.

إِنِّي رَأَيْتُ الجَنَّةَ، أَوْ أُرِيتُ الجَنَّةَ، فَتَنَاوَلْتُ مِنْهَا عُنْقُودًا، وَلَوْ أَخَذْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتِ الدُّنْيَا، وَرَأَيْتُ النَّارَ، فَلَمْ أَرَ كَاليَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ، وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ» قَالُوا: لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «بِكُفْرِهِنَّ» قِيلَ: يَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟ قَالَ: " يَكْفُرْنَ العَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ (رواه البخارى و مسلم)

"Aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “Tidak, melainkan mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan suami. Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu yang tidak berkenan di hatinya niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907)

Semoga kita bisa menjadi istri yang penuh syukur. Istri sholehah penyejuk keluarga. Aamiin.
 

Sabtu, 25 Maret 2017

Tipe Wanita dalam Al-Qur'an


Sahabat Buletin Santri, Allah SWT menciptakan kita berjenis kelamin laki-laki dan perempuan dengan keadaan yang bermacam-macam. Ada banyak kisah dari umat terdahulu yang telah diceritakan oleh Allah dalam firman-Nya. Dari berbagai kisah tersebut, beberapa diantaranya menceritakan tentang wanita-wanita dengan tipe yang berbeda-beda Setidaknya ada lima tipe wanita yang disebutkan Allah SWT dalam Al-Quran.

Pertama, tipe pejuang.

Wanita tipe pejuang memiliki kepribadian kuat. Ia berani menanggung risiko apa pun saat keimanannya diusik dan kehormatannya dilecehkan. Tipe ini diwakili oleh Siti Asiyah binti Mazahim, istri Fir'aun.

Walau berada dalam cengkraman Fir'aun, Asiyah mampu menjaga akidah dan harga dirinya sebagai seorang muslimah. Asiyah lebih memilih istana di surga daripada istana di dunia yang dijanjikan Fir'aun. Allah SWT mengabadikan doanya:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (11)

"Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata : Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang zalim”. (QS At Tahriim [66]: 11).

Kedua, tipe wanita shalihah yang menjaga kesucian dirinya.

Tipe ini diwakili Maryam binti Imran. Hari-harinya ia isi dengan ketaatan kepada Allah. Ia pun sangat konsisten menjaga kesucian dirinya.

قَالَتْ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا (20)

“Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!”. (QS Maryam [19]: 20).

Karena keutamaan inilah, Allah SWT mengabadikan namanya sebagai nama salah satu surat dalam Al-Quran. Maryam pun diamanahi untuk mengasuh dan membesarkan kekasih Allah, Isa putra Maryam (QS Maryam [19]: 16-34). Allah SWT memuliakan Maryam bukan karena kecantikannya, namun karena keshalihan dan kesuciannya.

Ketiga, tipe penghasut, tukang fitnah dan biang gosip.

Tipe ini diwakili Hindun, istrinya Abu Lahab. Al-Quran menjulukinya sebagai "Pembawa Kayu Bakar" alias penyebar fitnah. Dalam istilah sekarang wanita penyiram bensin.

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ (1) مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ (2) سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ (3) وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ (4) فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ (5)

“Binasalah keduatangan Abu Lahab dan sesungguhnya ia akan binasa. Demikian pula istrinya, pembawa kayu bakar yang di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal”. (QS Al Lahab [111]: 1-5).

 Bersama suaminya, Hindun bahu membahu menentang dakwah Rasulullah SAW, menyebar fitnah dan melakukan kezaliman. Isu yang awalnya biasa, menjadi luar biasa ketika diucapkan Hindun.

Keempat, tipe wanita penggoda.

Tipe ini diperankan Zulaikha saat menggoda Nabi Yusuf. Petualangan Zulaikha diungkapkan dalam Al-Quran, sebagaimana berikut :

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ (23)

“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata, “Marilah ke sini”. Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung”. (QS Yusuf [12]: 23).

Kelima, tipe wanita pengkhianat dan ingkar terhadap suaminya.

Allah SWT memuji wanita yang taat kepada suaminya yang zalim, seperti dilakukan perempuan Fir'aun (Siti Asiyah binti Mazahim). Namun, pada saat bersamaan Allah pun mengecam perempuan yang bekhianat kepada suaminya (yang saleh). Istrinya Nabi Nuh dan Nabi Luth mewakili tipe ini. Saat suaminya memperjuangkan kebenaran, mereka malah menjadi pengkhianat dakwah.

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ (10)

“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shaleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya), Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).” (QS At Tahriim [66]: 10).

Wanita-wanita yang dikisahkan Al-Quran ini hidup ribuan tahun lalu. Namun karakteristik dan sifatnya tetap abadi sampai sekarang. Ada tipe pejuang yang kokoh keimanannya. Ada wanita salehah yang tangguh dalam ibadah dan konsisten menjaga kesucian diri. Ada pula tipe penghasut, penggoda dan pengkhianat. Terserah kita mau pilih yang mana. Bila memilih tipe pertama dan kedua, maka kemuliaan dan kebahagiaan yang akan kita dapatkan. Sedangkan bila memilih tiga tipe terakhir, kehinaan di dunia dan kesengsaraan akhiratlah akan kita rasakan.

وَلَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ آيَاتٍ مُبَيِّنَاتٍ وَمَثَلًا مِنَ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ (34)

“Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada Kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum Kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS An Nuur [24]: 34).

Termasuk dari tipe manakah kita wahai Sahabat Buletin Santri? Wallaahu a'lam.
 

Tim Redaksi Buletin Santri Nurul Ulum. Diberdayakan oleh Blogger.